Assalamu'alaikum, sudah sangat lamasaya tidak menulis di Blog lagi. Berbagai alasan dan kegiatan yang membuat saya tak sempat berkunjung ke Blog sendiri. heheh...but is fun! Bismillah semoga saja kegiatan-kegiatan saya lancar. Amin.
Malam ini, ya pukul 20.57 saya sedang ada inspirasi untuk menulis tentang ibu saya yang sangat saya rindukan. Mengingat beliau membuat saya merasa sangat sedih jika harus menelusuri otak saya akan apa yang ibu kerjakan di rumah setiap hari.
Ibu saya bernama Sukmawati Yekti Handayani, wajahnya ibu saya awet muda :D, umur beliau 42 tahun. Belia sangat senang sekali menggunakan gamis, mendesain baju dan menjahit di tukang jahit, begitupun dengan baju-baju saya saat lebaran, ibu saya sangat antusias membuatkan saya rok beserta baju lainnya, melihat saya yang sekarang suka sekali menggunakan rok ibu saya sangat mendukung. pernah saat itu kami sedang belanja di salah satu mall di Sukabumi, dengan wajah yang semangat, bertukar pembicaraan fashion dengan saya, beliau mengajak saya untuk membeli beberapa pakaian hijab termodern sekarang-sekarang ini. Beliau sangat stylist, lebih stylist dibandingkan saya (ya mungkin karena saya cuek juga soal pakaian), tapi ketika saya berpakaian saya selalu ingat perkataan beliau "Kamu itu paling susah memadukan warna pakaian", alhasil saya yang sekarang berani untuk menuruti apa yang disarankannya.
Ibu saya sangat pintar memasak, salah satu bukti percobannya adalah kedai Cendana yang ayah dan ibu saya buka di depan rumah, kedai nasi ini adalah cita-cita ibu saya dari dulu, dan alhamdulillah sudah terwujud karena bantuan Allah dan kerja keras Ayah saya. Setiap hari beliau harus bangun pagi dan membuat menu sarapan pagi untuk dijual, beliau bisanya bersitirahat saat dzuhur, hanya dengan duduk di kursi ruang tamu kemudian terlelap. Tak terbayangkan betapa capeknya fisik beliau. (doakan anakmu bisa beli alat pijat ya ma). Setiap malam beliau harus tidur lebih telat dibandingkan anak-anaknya, apabila kami tidak tidur cepat beliau akan marah, apalagi ayahku. Takutnya kami tidak bisa bangun pagi untuk sholat subuh. begitulah didikan Ayah dan Ibuku.
Beliau sangatlah aktif, dari kecil memang sudah sangat aktif mengikuti organisasi sekola dan sering kali menjadi pemimpin pasukan upacara ataupun pramuka hingga sekarang di umurnya yanghampir setengah abad beliau masih aktif di perumahaan kami, ketika beliau harus menjadi ketua halal bihalal, mengurusi konsumsi dan sebagainya. Beliau sangat rajin untuk mengaji di masjid, terkadang suka mampir di rumah ibu-ibu tetangga dan membicarakan apa yang bisa dibicarakan.
Beliau sangat rapi, ketika melihat remah-remah nasi satubiji pun, beliau dapat langsung meliahat dan memberitahu kami agar membersihkannya. Sangat teliti, gesit dan gemasan.
Wahh.. sungguh pengorbananmu tiada akhir Ibu, aku sebagai seorang anak tertua di rumah dan seorang wanita, ingin rasanya aku bisa sepertimu suatu saat nanti, ketika aku sudah dewasa dan harus mengurus rumah tangga sepertimu aku ingin bisa lebih baik darimu (itu yang selalu kau pesankan kepadku). Senyummu sangatlah berarti untukku, hingga kau terus mencari cara agar kau bisa menangis bangga untukku dan tersenyum selalu. Semoga kau selalu dalam lindungan Allah SWT, langgeng dengan Bapak ya Mah... I love you





